Kekosongan Hati

Baca: Pengkhotbah 12:13 (Ecclesiastes 12:13)

Akhir kata dari segala yang didengar ialah: takutlah akan Allah dan berpeganglah pada perintah-perintah-Nya, karena ini adalah kewajiban setiap orang (Pengkhotbah 12:13).

Dalam Kitab Pengkhotbah, Salomo mengingatkan kita bahwa tak ada sesuatu yang baru di bawah matahari (Pengkhotbah 1:9). Dan itu termasuk kenyataan segala sesuatu yang ada di atas muka bumi ini benar-benar tidak dapat memuaskan hasrat terdalam hati manusia, namun manusia mencoba untuk selalu mewujudkannya.

Sebagai raja Israel pada zaman itu, bisa kita katakan Salomo memegang monopoli perdagangan dan keuangan di Timur Tengah yang pertama sepanjang sejarah manusia. Ia menimbun emas dan perak dari usaha perdagangannya dengan negara-negara sekitar. Kapal-kapalnya mengarungi lautan dan kembali dengan membawa emas dan perak serta gading juga kera dan burung merak. Para pengusaha asing datang untuk melihat kemegahan kerajaannya dan membawakan harta benda serta hadiah-hadiah yang indah. Jadi kalau memakai istilah monopoli, Salomo memiliki semua properti, fasilitas umum dan jalan raya, ia juga memiliki hotel.

Ironisnya, walaupun harta Salomo penuh melimpah, ia adalah orang yang tidak pernah merasa puas. Ia mendapati bahwa uang dan emas bukanlah rahasia kebahagiaan. Ia telah meninggikan keinginannya lebih tinggi dari siapa pun dalam sejarah dan meraih semuanya. Karena Salomo dapat membeli semuanya, ia membeli segalanya. Ia mengenyangkan diri dengan anggur dan makanan enak yang dihidangkan di perkakas makanan yang terbuat dari emas, tetapi itu tidak memuaskannya. Kemudian ia mencoba menemukan kebahagiaan dari berbagai proyek pembangunan. Ia membangun banyak rumah, kebun anggur, taman, kebun buah-buahan serta membangun kolam-kolam untuk mengairi tanaman-tanaman itu. Lalu  Salomo mulai mengumpulkan: pelayan, istri, gundik, sapi dan kambing domba, biduan dan biduanita. Tetapi, semuanya itu tidak dapat mengusir kekosongan hatinya untuk menemukan jawaban rahasia dari kebahagiaan.

Filsuf Prancis yang bernama Pascal, hidup pada abad ke-17, berkata: “Rasa hampa di dalam hati manusia, di dalam hati Salomo dan juga didalam hati saya dan Anda bukanlah ditentukan oleh uang, tetapi ditentukan oleh Allah.” Ketika Salomo berusaha mengisi kekosongan itu dengan segala hal selain Allah, ia justru semakin merasa tidak puas. Kitab Pengkhotbah mencatat pencarian arti hidup Salomo yang menyedihkan serta kesadaran akhirnya bahwa arti hidup hanya terdapat di dalam Allah semata. Akhir kata dari segala yang didengar ialah: takutlah akan Allah dan berpeganglah pada perintah-perintah-Nya, karena ini adalah kewajiban setiap orang. Karena Allah akan membawa setiap perbuatan ke pengadilan yang berlaku atas segala sesuatu yang tersembunyi, entah itu baik, entah itu jahat (Pengkhotbah 12:13-14). —Lydia Ong

Kebahagiaan sejati hanya terdapat saat hati kita terpaut dengan Tuhan, Sang Penguasa kehidupan yang penuh kasih.

0

Tagged with:
Posted in Renungan Harian

Jangan Terjebak Kemarahan Melihat Kejahatan

Baca: Mazmur 37:1-5 (Psalms 37:1-5)

Jangan marah karena orang yang berbuat jahat, jangan iri hati kepada orang yang berbuat curang (Mazmur 37:1).

Menyaksikan orang-orang yang sudah dikenakan status sebagai tersangka koruptor oleh KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi), namun yang tetap mengumbar senyum dan tawa gembira di depan kamera, bahkan ada yang sambil mengacungkan kedua ibu jari tangannya ke depan, mungkin hati kita merasa heran bercampur geram. Begitu hebatnyakah ketabahan orang-orang tersebut, sehingga dapat menyembunyikan perasaan hatinya yang sebenarnya? Atau mungkin mereka benar-benar tidak merasa bersalah, meski KPK dengan tegas menyatakan memiliki bukti-bukti kuat dan tak terbantahkan?

Bagaimanapun juga, dalam kehidupan ini sering kita menyaksikan, betapa orang-orang yang perbuatannya sangat tidak terpuji, karena melakukan hal-hal yang berlawanan dengan hukum negara ataupun agama, namun hidup mereka tampak penuh dengan kesenangan, kebahagiaan, kecukupan dan kesejahteraan! Sebaliknya, orang-orang yang sangat patuh terhadap aturan dan hukum, hidup mereka ternyata malah penuh dengan kesulitan dan keterbatasan dalam banyak hal. Menyaksikan kenyataan seperti itu, kita hanya dapat menggeleng-gelengkan kepala, atau mungkin juga “menggugat” keadilan Tuhan! Atau malah barangkali iman kita menjadi goyah, sehingga tergoda untuk meniru melakukan perbuatan-perbuatan yang tidak benar, namun mendatangkan keuntungan dan kesenangan hidup itu?

Pemazmur 37 mengingatkan, agar kita: “jangan marah karena orang yang berbuat jahat” dan “jangan iri hati kepada orang yang curang”. Ketimbang emosi dan perasaan terbakar sia-sia, lebih baik “percayalah kepada Tuhan dan lakukanlah yang baik”. Tuhan itu Mahaadil, sehingga pasti tidak akan membiarkan orang jahat selamat, sebaliknya orang saleh binasa. Pemazmur menegaskan, “Orang-orang yang berbuat jahat akan dilenyapkan, tetapi orang-orang yang menantikan Tuhan akan mewarisi negeri” (Mazmur 37:9). Kita tidak tahu, kapan Tuhan akan menjatuhkan hukuman-Nya. Yang kita tahu, cepat atau lambat, Dia pasti menghukum kejahatan. —Pdt. Em. Sutarno

Lebih baik yang sedikit pada orang benar, daripada yang berlimpah-limpah pada orang fasik. Mazmur 37:16

0

Tagged with: ,
Posted in Renungan Harian

Tidak Serba Segera

Baca: Kejadian 1:1-31 (Genesis 1:1-31)

Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi. Bumi belum berbentuk dan kosong; gelap gulita menutupi samudera raya, dan Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air…. Maka Allah melihat segala yang dijadikan-Nya itu, sungguh amat baik…(Kejadian 1:1-2, 31).

Dalam sebuah acara Pemahaman Alkitab (PA) yang saya pimpin pernah ada pertanyaaan sebagai berikut: “Mengapa ada orang beragama yang masih suka mencari kekuatan atau kekuasaan lain di luar Tuhan dalam kehidupan mereka?” Ketika didiskusikan ada seorang peserta PA yang menjawab, “Karena kuasa-kuasa lain di luar Tuhan itu banyak yang langsung kelihatan hasilnya, nyata dan cepat. Yang ingin kuat atau kebal senjata, yang ingin kelihatan menarik dan memikat, yang sakit ingin sembuh, semuanya bisa didapatkan. Dan, waktunya tidak lama. Tetapi, kalau mengharapkan kuasa dan pertolongan Tuhan, sering tidak segera datang. Harus sabar…” Jawaban ini tidak salah, bukan? Mungkin kita pun pernah mengalami seperti yang dikatakan oleh peserta PA tersebut. Akan tetapi, itulah cara kerja yang sering dipakai Tuhan, yang mungkin kurang disadari oleh manusia.

Cara kerja yang demikian bahkan sudah ditunjukkan oleh Tuhan sejak awal Ia berkarya, saat menciptakan langit dan bumi. Diawali dengan keadaan yang sangat kacau-balau (chaos) sampai semuanya menjadi sungguh amat baik, dibutuhkan 29 ayat untuk memaparkan. Atau, jika dilihat dari waktunya, dibutuhkan 6 hari. Pertanyaannya, apakah Tuhan tidak bisa membuat segala yang sangat kacau-balau itu menjadi sungguh amat baik hanya dalam waktu satu hari atau sekejap saja? Kalau mau, Tuhan pasti bisa. Namun, nyatanya Ia memilih proses yang bertahap dan memerlukan waktu yang lebih panjang.

Penekanannya tentu bukan bahwa Tuhan itu suka bersantai atau membuang waktu, atau berprinsip “kalau bisa lambat buat apa cepat-cepat”, melainkan ada yang mau Ia ajarkan, yakni bahwa proses itu penting. Ia menghendaki proses yang benar. Tidak serba instan atau “serba segera”. Kita jangan pernah lupa cara kerja Tuhan yang demikian, yang lebih sering dipakai-Nya ketika menolong atau menjawab doa kita.

Selain itu, cara kerja Tuhan yang demikian ini dapat menjadi teladan yang baik untuk kita yang hidup di zaman yang menghendaki semua serba cepat dan instan. Bukan mengajar kita berlambat-lambat, melainkan agar kita tetap peduli dan tidak mengabaikan proses yang baik dan benar dalam segala hal; agar kita tidak dikuasai mental instan. Ingin cepat kaya bukan korupsi jalannya, melainkan bekerja dengan benar dan giat. Ingin cepat naik jabatan, bukan dengan jegal sana-sini, melainkan dengan menunjukkan prestasi kerja yang baik. Ingin segera terbebas dari masalah, bukan mencari pertolongan kuasa lain, melainkan sabar menunggu pertolongan Tuhan. Di dalam proses yang benar, yang bisa jadi membutuhkan waktu lebih lama, kita dapat belajar banyak hal yang baik, serta dapat merasakan kehadiran Tuhan dalam hidup kita. —Pdt. Yefta Setiawan Krisgunadi

Dan biarkanlah ketekunan itu memperoleh buah yang matang, supaya kamu menjadi sempurna dan utuh dan tak kekurangan suatu apa pun. —Yakobus 1:4

0

Tagged with:
Posted in Renungan Harian

Kemurahan Allah

Baca: Mazmur 23:6 (Psalms 23:6)

Kebajikan dan kemurahan belaka akan mengikuti aku, seumur hidupku… (Mazmur 23:6).

Selama perang, pasukan Jepang menembak jatuh sebuah pesawat Amerika. Tiga orang awaknya selamat, tanpa luka-luka serius dan bertahan hidup di sebuah pulau selama sepuluh bulan. Mereka mengambil segala sesuatu yang bisa mereka ambil dari pesawat, salah satunya adalah cermin kecil.

Pada suatu hari, mereka kehabisan makanan dan memutuskan untuk memancing di laut. Di pantai mereka menemukan satu karton penuh ikan kaleng yang terbawa ke pantai dari sebuah kapal Jepang yang dibom oleh pesawat Amerika.

Tak lama kemudian pesawat pengintai Amerika terbang di atas pulau itu. Dengan cepat tentara-tentara itu mengeluarkan cermin dan memberi tanda kepada pilot. Pilot melihat tanda tersebut dan beberapa hari kemudian sebuah kapal selam muncul di malam hari dan mengangkut tentara-tentara itu.

Gambar1Rev. Bruno Hagspiel, penutur kisah ini, menyimpulkan bahwa kejadian itu, seperti banyak kejadian lain, tidak terjadi secara kebetulan. Tetapi, bahwa ada Seseorang di belakang semua itu. Tidak ada kebetulan dalam hidup orang percaya. Semua berlangsung dalam mahakarya rencana Allah. Kabar baiknya adalah selalu ada kemurahan Allah.

Beberapa hari yang lalu saya menerima kiriman gambar dari seorang teman (gambar yang ada di bawah ini), yang semakin Gambar2meyakinkan saya bahwa kemurahan Allah begitu luar biasa

Perhatikanlah gambar 1, tampak sebagai kecelakaan biasa. Lihatlah gambar 2, begitu mengerikan bukan? Mengapa mobil itu tidak terjatuh ke jurang yang begitu dalam dan curam? Apakah kita dapat mengatakan itu suatu kebetulan? Tanpa kemurahan Allah, pasti mereka bisa lebih celaka, terguling ke dalam jurang.

Dalam hidup ini kita membutuhkan kemurahan Allah. Untuk hal-hal yang tidak  sanggup kita lakukan, tak ada jalan keluar, di situlah peran kemurahan Allah. Syukur kepada Allah karena kebajikan dan kemurahan belaka akan mengikuti kita, seumur hidup kita… (Mazmur 23:6). —Liana Poedjihastuti

Siapa yang mempunyai hikmat? Biarlah ia berpegang pada semuanya ini, dan memperhatikan segala kemurahan Tuhan. —Mazmur 107:43

0

Tagged with: ,
Posted in Renungan Harian

Memegang Janji

Baca: Yosua 9:1-27 (Joshua 9:1-27)

Berkatalah pemimpin-pemimpin itu kepada seluruh umat: “Kami telah bersumpah kepada mereka demi Tuhan, Allah Israel; oleh sebab itu kita tidak dapat mengusik mereka (Yosua 9:19).

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, janji adalah “ucapan yang menyatakan kesediaan dan kesanggupan untuk berbuat.” Berjanji berarti “menyatakan bersedia dan sanggup untuk berbuat sesuatu”. Janji yang dibuat oleh Yosua dan para pemimpin Israel kepada orang Gibeon adalah “membiarkan mereka hidup” (Yosua 9:15). Janji itu diikat dengan sumpah “demi Tuhan, Allah Israel” (Yosua 9:18). Itu artinya, Tuhan, Allahnya orang Israel, dipanggil sebagai Saksi perjanjian sekaligus Pengikat, Penuntut dan Penghukum bila janji tidak ditepati.

Jika dicermati, janji itu dibuat dalam keadaan yang tidak ideal. Salah satu pihak, yakni orang Gibeon, tidak berterus-terang tentang maksud membuat perjanjian. Mereka malah dengan sengaja mencoba “mengakali” pihak yang diajak berjanji. Pihak yang lain, yakni orang Israel, tidak menyadari bahwa dirinya sedang “diakali”. Dalam kondisi seperti ini tentu orang Israel punya 1001 alasan untuk membatalkan perjanjian. Apalagi, bangsa Israel sendiri tidak setuju dengan perjanjian itu. Namun hal itu tidak bisa dilakukan oleh Yosua dan para pemimpin Israel lainnya. Mereka tidak bisa karena bukan melulu kepada orang Gibeon mereka berjanji, tetapi juga kepada Tuhan janji itu mereka buat (Yosua 9:19). Itu sebabnya sekalipun pihak yang mengajak berjanji melakukannya dengan maksud busuk, janji itu tidak bisa serta merta dibatalkan. Janji itu harus dipegang. Bahkan sekalipun risikonya harus berhadapan dengan koalisi lima kerajaan di Kanaan Selatan, janji itu tetap dipegang dan dipenuhi.

Di negera kita ini, ada kebiasaan yang mengharuskan pejabat pada level tertentu sampai ke atasnya untuk mengangkat sumpah atau janji jabatan pada saat pelantikannya. Di dalam sumpah itu ia akan mulai, “Demi Allah saya bersumpah” kalau ia beragama Islam atau kalau beragama Kristen/Katolik, “Demi Tuhan saya berjanji”. Lalu, kalau orang Kristen/Katolik menikah mereka juga mengucapkan janji nikah dalam nama Allah atau di hadapan Allah. Sayangnya, nama Tuhan atau nama Allah di situ sering tidak diperlakukan sebagaimana seharusnya. Nama itu hanya pajangan atau untuk melengkapi syarat saja. Selanjutnya dalam perjalanan tugas atau hidup berumah tangga, Tuhan yang dipanggil sebagai Saksi, Pengikat, Penuntut dan Penghukum ini dilupakan dan tidak dihiraukan sama sekali. Korupsi, manipulasi, pengkhianatan, KDRT dan lain-lain dilakukan tanpa peduli lagi kepada murka Tuhan.

Yosua dan para pemimpin Israel mengajar kita bahwa janji adalah janji, dan karena itu harus ditepati sekalipun sangat berisiko dan menuntut pengorbanan besar dari pihak kita. Apakah anda seorang pemegang janji? —Pdt. Markus Dominggus Lere Dawa

An acre of performance is worth the whole Land of Promise.

—James Howell 

0

Tagged with:
Posted in Renungan Harian

Gandhi dan King

Baca: Matius 5:39 (Matthew 5:39)

Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapa pun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu (Matius 5:39). 

Apakah paradigma memberikan pipi kiri kalau ditampar pipi kanan bisa memberi kemenangan? Mahatma Gandhi dan Martin Luther King Jr. sudah membuktikan bahwa paradigma ini efektif. Kisah mereka dimulai dari buku The Kingdom of God Is Within yang ditulis teolog dan novelis Leo Tolstoy. Buku ini berbicara tentang Khotbah di Bukit, di antaranya menjelaskan sabda Yesus: “Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah” (Matius 5:9). Setengah abad kemudian, seorang pemeluk Hindu, Gandhi, membaca buku Tolstoy itu. Philip Yancey dalam The Jesus I Never Knew menulis, bahwa Gandhi kemudian memutuskan untuk hidup berdasarkan prinsip literal dalam Khotbah di Bukit.

Jika Anda memirsa film Gandhi, ada adegan menarik ketika Gandhi bersama seorang misionaris Presbyterian, Charlie Andrews, berjalan di sebuah kota di Afrika Selatan. Mereka dihadang oleh para berandalan. Andrews gemetar memandang para gengster yang garang dan sangar. Ia segera mengajak Gandhi untuk bergegas melarikan diri. Namun Gandhi menolak, “Bukankah menurut Perjanjian Baru, bila musuh menampar pipi kananmu, berikan juga pipi kirimu?”

Andrews berbisik untuk meyakinkan Gandhi bahwa itu hanya pernyataan metaforis. “Saya rasa tidak,” Gandhi menyanggah pendeta Presbyterian itu, “Saya kira, Ia (Yesus) bermaksud kita harus menunjukkan keberanian—bersedia menerima pukulan, beberapa pukulan, untuk menunjukkan Anda tidak akan melawan atau menghindar. Dan, ketika Anda melakukan itu, Anda menunjukkan sifat alamiah manusia, sesuatu yang membuat kebencian berkurang dan rasa hormat bertambah. Saya kira Kristus mengerti itu, dan saya sudah melihat itu berhasil.”

Gandhi adalah pemimpin India yang autentik, ia adalah seorang pejuang Satyagraha, perlawanan tanpa kekerasan. Martin Luther King Jr., seorang pejuang hak asasi manusia sangat terinspirasi dan mempelajari Satyagraha. King memutuskan untuk menerapkan ajaran Khotbah di Bukit dan Satyagraha di Amerika Serikat. King yakin bahwa perubahan moral harus diperjuangkan dengan cara-cara yang juga bermoral, bukan melestarikan immoralitas. Setelah menerima pukulan puluhan kali dari polisi, dicambuk pecut sapi beberapa kali oleh sipir penjara, King semakin yakin bahwa kekerasan tidak untuk dilawan dengan kekerasan.

“Siapa pun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu”, dalam kalimat yang lebih sederhana bisa dikatakan: “Jangan melawan kekerasan dengan kekerasan”. Siapkah Anda tidak melawan kekerasan, hanya menerima pukulan saja? Anda mungkin harus menyadari dahulu ajaran Yesus ini, siapa tahu Anda lebih memilih untuk menghindari pukulan, atau membalas pukulan dengan tendangan? Yakinkanlah dahulu diri Anda, Apakah benar aku bisa menang tanpa melawan, hanya menerima pukulan? Dan, apakah benar paradigma itu bisa menegakkan wibawa, kehormatan dan harga diri? —Agus Santosa

Kekristenan, selalu menekankan bahwa salib yang kita pikul mendahului mahkota yang akan kita terima. —Martin Luther King Jr.

0

Tagged with: , ,
Posted in Renungan Harian

Oleh Kasih Karunia-Nya

Baca: Efesus 2:8-9 (Ephesians 2:8-9)

Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah (Efesus 2:8).

Ketika kedua anak saya menyelesaikan studi sarjana, mereka pun sibuk membicarakan dunia kerja yang cocok bagi mereka. Berbagai keinginan mencuat dalam pembicaraan, ada yang ingin menjadi intelijen, guru, karyawan operator atau vendor telekomunikasi, dan lain-lain. Yang menyenangkan adalah mereka mau berusaha sendiri dan tidak mau menggunakan networking saya. Mereka rupanya tidak mau aji mumpung. Itu berarti mereka akan mengikuti prosedur agar bisa diterima di dunia kerja. Mereka harus menulis surat lamaran dan lolos interview. Ketika mereka menanyakan cara membuat surat lamaran yang baik, saya bengong.

Bagaimana saya bisa, karena tidak memiliki pengalaman itu. Memang interview itu yang menentukan seseorang diterima atau tidak, tetapi seseorang tidak akan di-interview tanpa surat lamaran yang mengesankan. Beruntung, selama bekerja saya pernah terlibat dalam merekrut karyawan bagi divisi saya. Dimulai dengan membaca surat lamaran, memilih yang terkesan baik kemudian meng-interview calon. Pengalaman inilah yang saya bagikan kepada mereka sebagai bekal. Untuk membuat surat lamaran yang mengesankan seseorang harus bisa menunjukkan kelebihannya secara meyakinkan dan natural. Syukurlah kedua anak saya cepat belajar sehingga mereka bisa mendapat pekerjaan yang mereka inginkan dengan mudah.

Cerita di atas menggambarkan bagaimana proses peralihan dari dunia akademis ke dunia kerja. Mungkin ada banyak yang sudah mengalami berbagai peralihan, misalnya dari dunia bisnis ke dunia pendidikan atau dari dunia olahraga ke dunia seni. Sadar atau tidak, suatu saat kelak kita juga akan beralih dari dunia di mana kita hidup sekarang ini ke suatu dunia yang baru. Dari kehidupan yang fana ke kehidupan yang kekal. “Lalu aku melihat langit yang baru dan bumi yang baru, sebab langit yang pertama dan bumi yang pertama telah berlalu, dan laut pun tidak ada lagi“ (Wahyu 21:1). Pemiliknya menyediakan banyak tempat bagi orang-orang pilihan-Nya, masalahnya siapakah yang akan dipilih-Nya?

Tidak satu orang pun yang pantas dipilih berdasarkan kondisi apapun. Dimata-Nya semua manusia telah hancur berantakan (total depravity) sejak kejatuhan Adam ke dalam dosa.  Sejak masih dalam kandungan ibunya pun manusia telah berdosa (Mazmur 51:7). Ketika lahir dan beranjak dewasa natur dosa selalu menggiring manusia untuk menjauhi bahkan berseteru dengan-Nya (Roma 8:7-8). Si Pemilik itu memiliki pengetahuan yang sempurna tentang kecendrungan dosa dalam hati setiap kita. Masih beranikah kita membuat “surat lamaran” atau menuntut kepada-Nya dengan menunjukkan kebaikan-kebaikan kita agar kita dipilih oleh-Nya?

Alangkah bersyukurnya kita karena Si Pemilik itu, Allah kita, mengesampingkan semua pengetahuan-Nya tentang kecendrungan jahat di hati kita, Ia bahkan tidak memperhitungkan semua pelanggaran kita. Karena kalau beberapa saja dari pelanggaran kita dan sedikit saja dari pengetahuan-Nya tentang kecendrungan dosa di hati kita diperhitungkan, maka tidak satu pun di antara kita layak jadi pilihan-Nya. Ia memberi tempat bagi kita dalam kerajaan-Nya semata-mata karena kasih karunia-Nya. —Herman Kanalebe

…Aku akan menaruh belas kasihan kepada siapa Aku mau menaruh belas kasihan dan Aku akan bermurah hati kepada siapa Aku mau bermurah hati. —Roma 9:15

1

Tagged with: , ,
Posted in Renungan Harian

Menghina Nama Tuhan

Baca: Maleakhi 1:6-9  (Malachi 1:6-9)

…Tetapi kamu berkata, “dengan cara bagaimanakah kami menghina nama-Mu?” (Maleakhi 1:6).

Nats di atas merupakan pertanyaan para imam, yang dengan perantaraan Nabi Maleakhi dinilai Tuhan telah menghina nama-Nya. Para imam tersebut merasa telah dengan setia dan taat mendedikasikan hidup dan kegiatannya untuk melayani Tuhan, jadi sama sekali tidak pernah melakukan hal yang merupakan penghinaan terhadap Tuhan. Tetapi, terhadap pertanyaan mereka yang bernada penyangkalan itu, Tuhan menjawab bahwa di dalam mempersembahkan kurban, ternyata mereka telah mempersembahkan binatang-binatang kurban yang cacat, yang sesungguhnya tidak layak untuk dipersembahkan kepada Tuhan.

Seperti para imam di zaman Maleakhi yang merasa tidak pernah menghinakan nama Tuhan, mungkin kita sekarang pun juga merasa tidak melakukan hal-hal yang menghina nama-Nya. Melalui perkataan atau ucapan, mungkin secara eksplisit kita tidak pernah dan berani menghina Tuhan. Tetapi, kalau kita cermati dengan jujur, apakah kita akan berani berkata bahwa dalam seluruh hidup dan perilaku kita, kita benar-benar tidak pernah melakukan hal-hal yang mengabaikan dan melanggar perintah-perintah-Nya? Pelanggaran terhadap perintah Tuhan, itu sama dengan penghinaan terhadap nama-Nya!

Rasul Paulus menyerukan, “…supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: Itu adalah ibadahmu yang sejati” (Roma 12:1). Dengan demikian, “tubuh” kita, yang dalam hal ini berarti “seluruh kemanusiaan” kita, harus kita jadikan sebagai kurban persembahan yang hidup, kudus dan berkenan kepada-Nya, bukan seperti binatang kurban yang cacat atau sakit. Karenanya, segenap hidup dan perilaku kita harus kita usahakan benar-benar menaati dan menjalankan apa yang menjadi kehendak dan perintah-perintah Tuhan, agar hidup dan perilaku kita itu merupakan persembahan yang kudus dan berkenan kepada-Nya. Kalau tidak, keberadaan dan perilaku kita itu pada hakikatnya merupakan kurban persembahan yang cacat, sehingga menghinakan nama Tuhan, Sang Pemilik kehidupan.

Kepada para imam yang telah menghinakan nama Tuhan itu Maleakhi berseru, “Cobalah melunakkan hati Allah, supaya Ia mengasihani kita!” Oleh sebab itu, menyadari bahwa kita, melalui hidup dan perilaku kita, telah menghinakan nama Tuhan, hendaknya kita mau berusaha “melunakkan hati Tuhan”, dengan memohon pengampunan-Nya, untuk selanjutnya berusaha dengan sungguh-sungguh menaati dan menjalankan perintah-perintah-Nya. —Pdt. Em. Sutarno

Jika kita berkata, bahwa kita tidak berdosa, maka kita menipu diri kita sendiri dan kebenaran tidak ada di dalam kita. Jika kita mengaku dosa kita, maka Tuhan adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan. —1 Yohanes 1:8-9

1

Tagged with: ,
Posted in Renungan Harian

Kesalahan Pemimpin

Baca: Yosua 7:2-5; 8:1-2; 9:3-27 (Joshua 7:2-5; 8:1-2; 9:3-27)

Lalu orang-orang Israel mengambil bekal orang-orang itu, tetapi tidak meminta keputusan Tuhan (Yosua 9:14).

Tidak seperti Musa yang jelas dicatat kesalahannya (Bilangan 20:2-13), Kitab Yosua menampilkan Yosua tanpa kesalahan sama sekali. Hidupnya bersih dari pelanggaran hukum Tuhan. Namun demikian dalam soal kepemimpinan Yosua bukan tanpa cacat. Kalau kita sedikit cermat membaca kisah kegagalan penyerbuan Kota Ai dalam pasal 7 dan selanjutnya membaca kisah “tertipunya” orang Israel oleh orang Gibeon, akan kita temukan bahwa Yosua setidaknya punya andil di situ.

Dalam Yosua 7:2, Yosua menempuh strategi yang sama seperti yang dimulainya ketika hendak menyerang Yerikho. Ia mengutus mata-mata. Namun ada perbedaan menyolok di antara keduanya. Pada Yerikho, strategi penyerangan langsung diberikan oleh Tuhan (Yosua 6:2-17) sementara pada Ai diberikan oleh mata-mata yang dikirim Yosua. Lalu, dalam penyerangan di Yerikho, Yosua turut serta namun pada serangan pertama ke Ai, Yosua tidak turun. Berangkat dari data yang dilihat manusia ia menjadi terlalu percaya diri sehingga membuat estimasi yang keliru. Ia pikir dengan 3.000 tentara saja semua pasti beres. Yang lain, sebelum menyerbu Yosua tidak berkonsultasi dahulu dengan Allah sehingga ia tidak tahu bahwa salah seorang anak buahnya telah membuat Tuhan murka kepada seluruh bangsa.

Gagal berkonsultasi dengan Tuhan terlebih dahulu diulangi lagi oleh Yosua dalam kisah orang-orang Gibeon. Tanpa bertanya dahulu kepada Tuhan, Yosua dan tua-tua orang Israel langsung mengikat persahabatan dengan orang Gibeon yang datang dalam samaran. Akibatnya, Gibeon tidak bisa ditaklukkan dan umat “bersungut-sungut” terhadap pemimpinnya (Yosua 9:18).

Kesalahan ini disadari Yosua. Namun ia tidak mau membiarkan dirinya ditindas oleh kesalahan. Ia bangkit dan segera memperbaiki diri. Dalam pasal 8, ketika Ai akan diserang lagi Yosua langsung turun tangan memimpin. Kali ini bukan lagi saran para pengintai yang ia dengarkan tetapi perintah Tuhan (Yosua 8:1). Strateginya tidak lagi disusun berdasarkan saran pengintai namun ia terima dari Tuhan. Hasilnya apa? Keberhasilan. Dalam kisah dengan orang Gibeon, Yosua pun menyadari kekeliruan yang ia dan para tua-tua Israel lakukan. Namun ia tidak mau terjebak dalam perangkap saling menyalahkan. Yang ia lakukan bersama para tua-tua Israel adalah mencari solusi yang dapat membuat umat tenang dan percaya lagi kepada para pemimpinnya.

Pemimpin bukan orang yang bebas dari salah. Ia bisa berkali-kali salah. Namun pemimpin adalah seorang pemimpin kalau ia mau bertanggung jawab atas kekeliruannya, tidak lari dari tanggung jawab dan, yang terpenting, mau belajar dari setiap kesalahannya. Ia memikul kesalahannya, menarik pelajaran dari kesalahannya dan menerapkan pelajaran itu dalam aksi-aksi berikutnya. Apakah Anda juga begitu? —Pdt. Markus Dominggus Lere Dawa

Show me a country, a company, or an organization that is doing well and I’ll show you a good leader. —Joseph E. Brooks

0

Tagged with:
Posted in Renungan Harian

Rancangan-Ku Bukanlah Rancanganmu

Baca: Yesaya 55:6-9 (Isaiah 55:6-9)

Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman Tuhan. Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu (Yesaya 55:8-9).

Setiap orang pasti memiliki rencana, cita-cita, dream untuk dirinya, keluarga, bahkan untuk gereja dan masyarakatnya. Pasti rencana, cita-cita atau impian itu baik menurut pertimbangan dan pandangannya sendiri.

Apa rencana dan impian Anda? Apa pun rencana, cita-cita atau impian kita, pasti kita akan mengupayakan berbagai cara untuk mewujudkannya. Tidak lupa kita berdoa agar Tuhan mengabulkannya. Kita gembira jika rencana atau impian kita itu menjadi kenyataan. Tetapi, bagaimana seandainya rencana atau impian kita tersebut tidak berjalan seperti yang kita harapkan? Bukankah sering kali kita lalu menjadi kecewa, sedih, bahkan marah, termasuk marah kepada Tuhan?

Sering kali kita tidak menyadari bahwa menginginkan impian kita terwujud sesuai dengan harapan dan cara kita itu sama saja dengan “memberangus” Tuhan, tidak mengizinkan Dia campur tangan. Kita hanya ingin Tuhan mengatakan “ya” atas rencana dan impian kita. Seolah Tuhan itu “tukang stempel” yang hanya diminta membubuhkan stempel “setuju”. Hal ini sama dengan menutup pintu kemurahan Tuhan.

Tuhan Mahatahu. Dia tahu perjalanan hidup kita ke depan, sementara pandangan kita sangat terbatas. Tuhan tahu yang terbaik bagi kita. Tuhan akan membelokkan bahkan menggagalkan rencana kita jika rencana itu hanya akan mendatangkan celaka bagi diri kita sendiri ataupun sesama. Bahkan Tuhan kadang mengizinkan masalah merintangi jalan kita demi kebaikan kita.

Rencana Tuhan memang tidak selalu rasional atau masuk akal. Ia berkerja dengan cara misterius, di belakang layar. Ia melakukan hal-hal besar yang tidak kita pahami. Ketika Tuhan menutup pintu yang satu, berarti ada pintu lain yang akan dibukakan, pintu yang lebih baik bagi kita. Tuhan bisa menggunakan hal-hal yang tidak baik: masalah, kegagalan, dan sebagainya untuk mewujudkan rencana-Nya. Tidak ada yang terjadi pada kita tanpa seizin Tuhan untuk kebaikan kita. Dia tidak akan menginzinkan hal-hal terjadi dalam hidup kita kecuali Dia memiliki tujuan. Rencana Tuhan selalu mendatangkan damai sejahtera (Yeremia 29:11), tetapi tidak selalu seperti cara dan harapan kita. Karenanya kita harus tetap terbuka pada campur tangan Allah. “Rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku” (Yesaya 55:8-9).

Percayailah Tuhan. Dia yang memegang kendali. Dengan demikian kita bisa berserah, relaks, tidak khawatir atau stres. Jangan merasa kecewa, marah, kecil hati atau tawar hati ketika rencana kita tidak berjalan seperti harapan kita. Percayalah, Tuhan telah menyediakan yang lebih baik bagi kita. —Liana Poedjihastuti

Ingatlah rencana-rencana Anda yang gagal. Dapatkah Anda sekarang menyukurinya karena ternyata kegagalan itu telah menyelamatkan Anda atau memberikan jalan lain yang lebih baik?

0

Tagged with: , ,
Posted in Renungan Harian

Archives

Follow me on Twitter