Hidup Baru

Baca: 2 Korintus 5:1-4 (2 Corinthians 5:1-4)

Kita mengeluh oleh beratnya tekanan, karena kita mau mengenakan pakaian yang baru itu tanpa menanggalkan yang lama, supaya yang fana itu ditelan oleh hidup (2 Korintus 5:4).

Saya tidak pernah bergairah menghadiri acara reuni yang diselenggarakan sekadar untuk mengenang apa yang pernah dijalani bersama lima tahun, sepuluh tahun, atau tiga puluh tahun yang lalu. Itu potret lama, sangat tidak nyaman jika kehadiran saya hari ini disambut dengan melihat “potret diri” saya yang lama. Sebuah potret yang tidak lagi menggambarkan diri saya yang sekarang. Potret yang mungkin penuh luka dan duka, sarat keberhasilan dan kebanggaan yang sudah usang, atau barangkali close-up dari kesalahan dan dosa-dosa masa lalu yang telah diampuni Tuhan. Semua ingin diunggah kembali dalam satu episode, malam reuni.

Ketika Anda memutuskan hidup baru, iman atau sikap percaya Anda diperbarui. Anda sudah mengenakan pakaian yang baru, jati diri yang baru. Tetapi, seperti pernah dikatakan Paulus, betapa berat beban yang harus Anda rasakan ketika mengenakan pakaian baru tanpa menanggalkan pakaian lama (2 Korintus 5:4). Paulus mengajarkan, bahwa setiap orang percaya adalah ciptaan Tuhan yang baru. Siapa pun diri Anda, di dalam Yesus Kristus, Anda sudah didamaikan dengan Tuhan. Jadi, jangan izinkan orang lain mengenal Anda dari potret yang lama. Kita adalah ciptaan baru dan sudah seharusnya juga menjadi perantara untuk memperbarui orang-orang di sekitar kita.

Memulai hidup baru, sejatinya bukan sebuah perang akbar. Memulai hidup baru adalah memperbarui sikap percaya Anda, dan sering kali hanya seperti mengeluarkan selilit dari sela-sela gigi saja, tidak selalu heroik. Selilit memberi rasa tak nyaman, sisa-sisa makanan membuat akhir makan yang nikmat menjadi terganggu. Selilit sering membuat mulut gerah dan lidah bergeliat kuat mengusirnya. Ya, kita bisa gunakan tusuk gigi, senjata pamungkas untuk mengusir selilit, atau gunakan saja perkakas modern, floss, sejenis benang khusus untuk membersihkan sela-sela gigi dari sisa makanan.

Selilit itu mengganggu, menebar rasa tak enak, bahkan bisa menimbulkan masalah bagi kesehatan gigi dan mulut. Seperti itulah hidup, sering terselip “selilit” yang bisa merapuhkan sikap percaya, tidak teguh iman. “Selilit” itu mungkin pahit hati yang terpendam dalam akibat penindasan, pelecehan atau penolakan orang lain. Mungkin juga perkara-perkara kecil yang membuat kita jengkel dan marah, lalu menyeruakkan dendam di hati. Atau barangkali sikap munafik, sirik, iri, dengki, dusta atau niat jahat apa pun yang terselip di hati kita. “Selilit” tampak sepele, sering kali tidak disadari, dan tetap harus segera dibersihkan. Nafikanlah hal-hal buruk yang menyusup ke dalam diri kita. Perbaruilah hati, pikiran, sikap, ucapan dan tindakan kita. Perbaruilah akal budi kita. Itulah jalan sederhana dan terpenting agar kita tidak serupa dengan dunia yang tak lekang oleh rancangan dan perbuatan jahat. Awalilah hari ini dengan membersihkan diri [juga selilit di sela-sela hidup] Anda agar benar di hadapan Tuhan. —Agus Santosa

Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaruan budimu… Paulus, Roma 12:2

0

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>